BENTENGNEWS.COM-- Ada sejumlah kebiasaan sehari-hari yang tanpa disadari dapat berdampak buruk pada kesehatan otak.
Beberapa di antaranya begitu umum dilakukan sehingga sering luput dari perhatian.
Padahal, otak memiliki peran penting dalam mengatur seluruh aktivitas tubuh, mulai dari berpikir, mengingat, hingga mengendalikan emosi.
Jika dibiarkan, kebiasaan-kebiasaan buruk tersebut dalam jangka panjang dapat menurunkan daya ingat, melemahkan fokus, dan bahkan meningkatkan risiko gangguan mental.
Lantas, apa saja kebiasaan yang bisa menurunkan kesehatan otak?
Kebiasaan yang tanpa disadari bisa menurunkan kesehatan otak
Ahli saraf Jamey Maniscalco, Ph.D., mengungkapkan sejumlah kebiasaan tersembunyi yang tanpa disadari dapat berdampak buruk pada kesehatan otak, di antaranya:
1. Begadang dan kurang tidur
Maniscalco mengatakan, tidur bukan sekadar waktu beristirahat, melainkan proses aktif yang sangat penting bagi kesehatan otak.
“Selama tidur, otak melakukan pembersihan, pengolahan emosi, dan penguatan memori," ujarnya, dikutip dari Eatingwell (18/7/2025).
Saat tidur, otak juga menyingkirkan sisa-sisa zat berbahaya yang menumpuk ketika seseorang terjaga. Kurang tidur kronis dapat meningkatkan risiko penyakit alzheimer.
Salah satu penyebabnya adalah gangguan dalam proses pembersihan protein beta-amiloid, zat beracun yang menumpuk di otak penderita alzheimer.
Sebuah penelitian terhadap hampir 8.000 orang selama lebih dari 25 tahun menemukan, mereka yang terbiasa tidur enam jam atau kurang setiap malam di usia 50–70 tahun memiliki risiko demensia yang jauh lebih tinggi dibanding mereka yang tidur tujuh jam.
Untuk menjaga kesehatan otak, tidur teratur selama tujuh hingga sembilan jam setiap malam sangat disarankan.
2. Merokok
Maniscalco menyampaikan, rokok bukan hanya berbahaya bagi jantung dan paru-paru, tetapi juga berdampak serius pada otak.
“Asap rokok mengandung ribuan bahan kimia berbahaya, banyak di antaranya menembus sawar darah otak dan menyebabkan stres oksidatif serta peradangan kronis," kata dia.
Dalam jangka panjang, hal ini dapat mempercepat kerusakan neuron dan jaringan pendukungnya, yang akhirnya mengubah struktur dan fungsi otak.
Penelitian menunjukkan adanya hubungan kuat antara kebiasaan merokok dan meningkatnya risiko demensia, termasuk slzheimer.
Menurut American Heart Association, merokok dapat meningkatkan risiko demensia hingga 30 persen dan Alzheimer hingga 40 persen.
3. Minum alkohol
Minum alkohol, bahkan dalam jumlah kecil, dapat merusak struktur dan fungsi otak.
Sebuah studi terhadap lebih dari 36.000 orang dewasa menemukan, konsumsi alkohol secara rutin berhubungan dengan penyusutan volume otak, berkurangnya materi abu-abu, dan rusaknya materi putih yang berfungsi untuk komunikasi antarsel otak.
Penurunan tersebut terlihat bahkan pada mereka yang hanya mengonsumsi satu gelas alkohol per hari. Semakin sering dikonsumsi, semakin besar pula kerusakannya.
“Alkohol merupakan depresan sistem saraf pusat sekaligus racun bagi saraf,” ujar Maniscalco.
“Zat ini memperlambat aktivitas otak dengan menghambat komunikasi antar-neuron, dan dalam kadar tinggi atau penggunaan jangka panjang, dapat merusak bahkan membunuh sel otak," tambahnya.
4. Kurang makan makanan sehat
Maniscalco menjelaskan, otak merupakan salah satu organ paling aktif secara metabolik.
Otak akan menggunakan lebih dari 20 persen energi harian meski beratnya hanya sekitar 2 persen dari tubuh.
“Artinya, asupan makanan tidak hanya memengaruhi tubuh, tetapi juga kemampuan dalam mengatur suasana hati, ingatan, fokus, dan ketahanan emosional," ungkapnya.
Mengonsumsi berbagai jenis makanan bergizi membantu otak bekerja optimal.
Pola makan yang kaya buah, sayur, biji-bijian utuh, kacang, dan ikan terbukti dapat meningkatkan volume otak dan melindungi dari penurunan fungsi kognitif.
Sebaliknya, pola makan tinggi makanan ultra-proses dapat mempercepat penurunan daya ingat.
5. Terjebak dalam rutinitas yang sama
Menurut Maniscalco, otak membutuhkan hal baru. Organ ini dirancang untuk bereaksi terhadap pengalaman, tantangan, dan pembelajaran baru.
“Tanpa rangsangan baru, otak cenderung masuk ke mode otomatis, sehingga sistem penting seperti perhatian, pemecahan masalah, memori, dan kreativitas menjadi kurang terasah," ujarnya.
Mempelajari keterampilan baru, mengunjungi tempat yang belum pernah didatangi, atau menyelesaikan teka-t
Sebaliknya, kurangnya stimulasi mental, terutama pada usia lanjut, terbukti dapat mempercepat penurunan kemampuan kognitif.
6. Terlalu banyak mengakses media sosial
Media sosial mungkin tampak seperti hiburan ringan atau cara mudah untuk tetap terhubung, tetapi dapat mengubah cara kerja otak secara signifikan.
“Platform seperti Instagram, TikTok, dan Facebook dirancang untuk memicu sistem dopamin otak, bagian yang terkait dengan motivasi, keinginan, dan kecanduan," kata Maniscalco.
Dalam jangka panjang, hal ini dapat berdampak negatif pada kesehatan otak.
Tinjauan terhadap berbagai studi menunjukkan, orang yang sulit mengendalikan penggunaan internet cenderung memiliki lebih sedikit materi abu-abu di area otak yang berperan dalam pengambilan keputusan, kontrol diri, dan pemrosesan penghargaan.
Penggunaan media sosial yang berlebihan juga dapat menurunkan kesejahteraan emosional.
Penelitian menemukan bahwa menjadikan media sosial sebagai sarana utama berinteraksi dapat memicu perasaan kesepian.
Untuk menyeimbangkannya, disarankan menjadwalkan waktu bebas gawai setiap hari dan meluangkan waktu untuk berinteraksi langsung dengan orang-orang terdekat.(*)
