BENTENGNEWS.COM- Di tengah memanasnya tensi geopolitik global, sebuah jalur laut sempit namun krusial kembali menjadi pusat perhatian dunia. Selat Hormuz urat nadi distribusi energi internasional berubah menjadi panggung tarik-menarik kepentingan antara kekuatan besar.
Dalam situasi yang penuh ketidakpastian ini, langkah Iran membuka akses terbatas bagi sejumlah negara menghadirkan dinamika baru yang sarat makna strategis dan ekonomi.
Kebijakan Selektif di Tengah Konflik Memuncak
Iran mengumumkan daftar negara yang dianggap “bersahabat” dan diizinkan melintasi Selat Hormuz, jalur vital perdagangan global.
Kebijakan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat dan Israel, yang turut berdampak pada stabilitas energi dunia.
Sebelumnya, Teheran sempat menutup seluruh akses pelayaran di selat tersebut.
Namun, dalam perkembangan terbaru, Iran mulai melonggarkan kebijakan tersebut dengan memberikan izin terbatas kepada negara tertentu untuk tetap menjalankan aktivitas ekspor. Kebijakan ini dilaporkan oleh media Inggris, Express, pada Jumat (27/3/2026).
Di saat yang sama, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dilaporkan menunda ancamannya untuk menghancurkan fasilitas energi Iran sebagai respons atas situasi tersebut.
Dampak Global: Energi dan Ekonomi dalam Tekanan
Ketegangan ini tidak hanya menjadi konflik regional, tetapi juga mengguncang stabilitas pasar global.
Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia diketahui melewati Selat Hormuz, sehingga gangguan sekecil apa pun di jalur ini langsung memicu lonjakan harga energi.
Dalam konteks ini, Iran bahkan dituding “menyandera ekonomi global” dengan membatasi akses hanya kepada negara-negara tertentu, menciptakan tekanan tambahan bagi negara yang bergantung pada jalur tersebut.
Strategi Iran: Seleksi Ketat dan Syarat Berlapis
Selat Hormuz, yang sempat ditutup total di awal konflik, kini dibuka secara selektif. Hanya kapal dari negara tertentu yang diizinkan melintas dengan syarat mengibarkan bendera masing-masing serta memenuhi ketentuan yang telah ditetapkan.
Iran menegaskan, Selat Hormuz pada dasarnya tetap terbuka bagi semua negara, kecuali Amerika Serikat dan sekutunya.
Dalam surat kepada 176 anggota Organisasi Maritim Internasional pada Selasa (24/3/2026), Iran menyatakan kapal-kapal non-musuh termasuk yang dimiliki atau terkait negara lain tetap dapat melintas dengan aman.
Izin tersebut diberikan dengan sejumlah syarat ketat: kapal tidak boleh terlibat atau mendukung aksi agresi terhadap Iran, wajib mematuhi standar keselamatan dan keamanan, serta harus berkoordinasi dengan otoritas Iran.
Negara-Negara yang Diizinkan Melintas
Seiring komunikasi intensif dengan negara-negara yang dianggap “sahabat”, sejumlah kapal telah memperoleh izin melintas. Negara-negara tersebut meliputi Malaysia, China, Mesir, Korea Selatan, dan India.
Menurut Lloyd's List, terdapat indikasi bahwa sedikitnya dua kapal yang melintasi Selat Hormuz melakukan pembayaran menggunakan yuan.
Bahkan, dalam salah satu kasus, perjalanan kapal difasilitasi oleh perusahaan jasa maritim China yang bertindak sebagai perantara sekaligus mengurus pembayaran kepada otoritas Iran, meskipun nilai transaksinya belum diungkap.
China sendiri mendapatkan prioritas karena hubungan eratnya dengan Iran serta ketergantungannya terhadap pasokan minyak melalui Selat Hormuz.
Meski demikian, jumlah kapal yang melintas masih belum cukup untuk meredam kenaikan harga energi secara signifikan.
India juga termasuk dalam daftar negara yang berhasil melintasi jalur tersebut setelah melakukan upaya diplomasi.
Sementara Pakistan sempat mengalami kendala satu kapal berhasil melintas, sementara kapal lain ditolak karena tidak memenuhi prosedur meskipun kini tetap diakui sebagai negara “sahabat”.
Rusia tetap mendapatkan akses berkat hubungan strategis yang kuat dengan Iran, sekaligus diuntungkan dari lonjakan harga minyak akibat konflik ini.
Thailand pun berhasil mengirim kapal tanker setelah melalui proses negosiasi, bahkan tanpa dikenakan biaya transit. Menariknya, pada awal konflik, kapal berbendera Thailand sempat mengalami serangan. Namun beberapa minggu kemudian, kapal yang sama berhasil melintasi Selat Hormuz setelah tercapai kesepakatan diplomatik.
Dengan demikian, berikut daftar negara yang kapalnya telah diizinkan melintasi Selat Hormuz oleh Iran:
China
Rusia
India
Pakistan
Mesir
Korea Selatan
Malaysia
Thailand
Posisi Indonesia: Harapan di Tengah Negosiasi
Bagaimana dengan Indonesia? Situasinya masih dalam tahap perkembangan, namun menunjukkan sinyal positif.
Wakil Ketua Komisi I DPR Dave Laksono menyatakan bahwa berdasarkan informasi terbaru, otoritas Iran memberikan respons positif terkait kapal Pertamina yang sempat tertahan di Selat Hormuz.
"Informasi terakhir menunjukkan adanya tanggapan positif dari otoritas Iran, dan saat ini proses sudah masuk ke tahap teknis dan operasional agar kapal-kapal Indonesia dapat segera melintas dengan aman," ujarnya dikutip dari Kompas.com, Jumat (27/3/2026) malam.
Dave menambahkan bahwa pihaknya memandang situasi ini dengan penuh perhatian sekaligus optimisme. Ia menekankan pentingnya diplomasi intensif dan komunikasi konstruktif demi memastikan kelancaran pelayaran.
"Hal ini menyangkut kepentingan nasional yang lebih luas, khususnya dalam menjaga ketahanan energi dan stabilitas pasokan bagi masyarakat," katanya.
Sementara itu, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI, Yvonne Mawengkang, juga menyampaikan bahwa pembahasan teknis dan operasional antara Indonesia dan Iran tengah berlangsung.
“Yang saat ini sedang ditindaklanjuti oleh pihak terkait pada aspek teknis dan operasional,” kata Yvonne, dikutip dari Kompas.com.
Apa yang terjadi di Selat Hormuz bukan sekadar persoalan regional, melainkan cerminan rapuhnya keseimbangan energi global.
Kebijakan selektif Iran menjadi simbol bagaimana jalur sempit dapat menentukan nasib ekonomi dunia. Di tengah ketegangan yang belum mereda, setiap keputusan di kawasan ini akan terus diawasi karena dampaknya, cepat atau lambat, akan terasa hingga ke seluruh penjuru dunia.(*)
